SEKOLAH ADIWIYATA

SEKOLAH ADIWIYATA

SEKOLAH ADIWIYATA

Program Adiwiyata melakukan penilaian sebanyak satu kali dalam setahun. Penilaian ini bertahap, mulai dari nasional, provinsi, hingga kabupaten/kota. Penilaian yang dilakukan tersebut meliputi berbagai hal.

Pertama-tama, calon Sekolah Adiwiyata harus menyampaikan permohonan penilaian secara tertulis kepada tim penilai kabupaten/kota. Setelah tim penilai kabupaten/kota selesai melakukan penilaian, hasilnya akan diberikan kepada tim penilai provinsi. Tidak hanya berdasarkan hasil penilaian tersebut, tim penilai provinsi juga akan menilai pencapaian sekolah.

Hasil penilaian dari tim penilai provinsi akan disampaikan kepada tim penilai nasional. Sama dengan tim penilai provinsi, tim penilai nasional juga akan melakukan penilaian terhadap pencapaian sekolah tersebut.

Hasil penilaian dari tim penilai nasional selanjutnya disampaikan kepada menteri melalui dewan pertimbangan adiwiyata.

SEKOLAH KEDINASAN

SEKOLAH KEDINASAN

Dunia Perkuliahan

Sekolah kedinasan umumnya memiliki program Diploma maupun Sarjana Terapan. Masa studi masing-masing jurusan juga berbeda. Misalnya, PKN STAN ada jurusan Pajak, Akuntansi, Penilai, Kebendaharaan Negara, Kepabeanan dan Cukai, Manajemen Aset. Jika memilih D1 Pajak, kamu akan ditempa selama 1 tahun, biasanya langsung penempatan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Beda lagi dengan pendidikan D3 Perbendaharaan, kamu akan menempuh studi selama 3 tahun, kemudian ditempatkan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Lulusan Manajemen Aset biasanya dinas di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang. Pokoknya lulusan STAN biasanya ditempatkan di Kementerian Keuangan.

Sekolah Berbasis Karakter

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) 12 Bendungan Hilir (Benhil) diresmikan menjadi sekolah kepemimpinan berbasis karakter pertama di Indonesia. Selasa (1/11/2011), di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Kepala SDSN 12 Benhil, Muryati mengatakan, peresmian sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah kepemimpinan berbasis karakter berangkat dari kesadaran sejumlah pihak akan pentingnya karakter kepemimpinan dalam diri anak sejak dini. Ia mengatakan, untuk membangun karakter seluruh siswa ia menggulirkan program The Leader in Me di sekolahnya tersebut. The Leader in Me merupakan suatu program dari FranklinCovey Education Solution untuk membangun karakter anak didik sejak dini melalui pengembangan karakter kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan sekolah secara menyeluruh melalui pembentukan budaya sekolah. "Ini sesuai dengan semangat pendidikan karakter kebangsaan yang dicanangkan oleh pemerintah," kata Muryati. Ia menambahkan, dengan mengadopsi program The Leader in Me di sekolahnya, maka dalam kegiatan sehari-hari para anak didik akan diajak untuk menerapkan 7 habits (tujuh kebiasaan), yaitu, jadilah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, mengerti baru dimengerti, sinergi, dan mengembangkan diri. The Leader in Me diberikan kepada seluruh siswa melalui transfer pengetahuan dari para pendidik, baik melalui materi ajar kurikulum, melalui teladan seluruh komponen sekolah, hingga praktik-praktik kepemimpinan di dalam dan luar kelas. Muryati nenjelaskan, budaya kepemimpinan akan diselaraskan dengan sistem dan tradisi, lingkungan fisik, dan kurikulum sekolah. Program The Leader in Me ini diterapkan melalui pendekatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah. "Tugas kita memunculkan potensi dari diri anak, tentu akan dikombinasikan dengan kegiatan pada pelajaran yang diintegerasikan dengan kurikulum nasional," ujarnya. Program The Leader in Me telah diterapkan di 668 sekolah di dunia. Di Indonesia, SDSN 12 Benhil merupakan sekolah negeri pertama yang menerapkan program sekolah kepemimpinan berbasis karakter. Dipilihnya SDSN 12 Benhil untuk menerapkan program tersebut diharapkan akan menjadi sekolah percontohan pembentukan karakter yang terintegrasi di kalangan sekolah negeri lainnya. Dalam waktu enam bulan ke depan, transformasi SDSN 12 Benhil dalam mengaplikasikan pembentukan karakter di lingkungan sekolah sudah mulai terlihat.

Pentingnya Sekolah Berbasis

Pentingnya Sekolah Berbasis

 

Bagaimanakah pendidikan kita saat ini? Inilah pertanyaan yang sangat mendasar, terkait banyaknya peserta didik yang masih belum menunjukkan sebagai peserta didik yang benar-benar terdidik dan memiliki karakter mulia. Tidak bisa dipungkiri, setiap sekolah terus berinovasi menambah materi maupun menguranginya, dengan harapan mencetak siswa yang berprestasi, baik secara akademik maupun secara spiritual. Namun realitas saat ini, angka perkelahian antar siswa semakin merajalela, ditambah perbuatan buruk lainnya sehingga mampu mencoreng wajah pendidikan Indonesia.

Sangat ironis ketika melihat hasil survei yang dilakukan oleh Irwin Day, sebagai ketua umum badan pengurus nasional Asosiasi Internet Indonesia. Diakui bahwa 90% anak usia 8-16 tahun telah membuka situs porno di internet, rata-rata anak usia 11 tahun membuka situs porno untuk pertama kalinya, bahkan banyak di antara mereka yang membuka situs porno disela-sela mengerjakan pekerjaan rumah (Media Indonesia 25/07/2008).

Tentunya masih banyak data lainnya, terkait fenomena janggal yang menggerogoti siswa yang berusia dini di Indonesia. Berdasarkan hasil survei di atas, mengindikasikan bahwa eksistensi peserta didik sangat mengkhawatirkan. Dari aspek psikologis saja, kebiasaan membuka adegan porno akan mengancam stabilitas kejiwaan siswa, dengan selalu memiliki keinginan kuat mempraktekan apa yang ditontonnya. Apalagi dari perspektif agama, fenomena semacam ini sangat dilarang, karena akan menimbulkan keinginan kuat (syahwat) yang ujung-ujungnya memudahkan mengerjakan pekerjaan yang lebih fatal (zina).

@2020 SMK Negeri Jenawi Karanganyar